Tuesday, October 28, 2008

The History of Photography

Fotografi identik dengan pembicaraan mengenai cahaya. Refleksi obyek dengan penghantar cahaya yang ditimpakan di sebuah bidang, itulah inti fotografi. Akhir abad ke-5 SM, seseorang bernama MoTi menemukan gejala fotografi berupa sebuah refleksi gambar terbalik pada sebuah tembok ruangan gelap. Saat ditelusuri, ternyata sumber refleksi dari gambar terbalik tersebut berasal dari sebuah lobang bertutup kaca yang ada di sisi tembok lainnya.

Generasi berikutnya, seorang Arab yang bernama Ibn Al-Haitham pada abad ke-10 Masehi menemukan fenomena yang sama pada tenda miliknya yang bolong. Hanya sebatas itu informasi yang masih bisa kita gali seputar sejarah awal fotografi karena keterbatasan catatan sejarah. Bisa dimaklumi, di masa lalu informasi tertulis adalah sesuatu yang amat jarang.

Fotografi dalam makna yang sebenarnya terus berkembang. Pada tahun 1839 adalah tahun awal fotografi. Di Prancis, fotografi pada saat itu disebut kemajuan teknologi. Gambar dua dimensi pun sudah dapat dibuat permanen.

Istilah Photography dicipta pada tahun 1839. Ketika teknologi senifoto terus berkembang bersama dengan kemajuan manusia, ilmu sangat penting bagi menjamin mutu kerja seorang senifoto yang kemudian disebut fotografer (Photographer). Pada tahun itu, di Perancis dinyatakan secara resmi bahwa fotografi adalah sebuah terobosan teknologi. Saat itu, rekaman dua dimensi seperti yang dilihat mata sudah bisa dibuat permanen.

Penemu fotografi dengan pelat logam, Louis Jacques Mande Daguerre, sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Tapi, Pemerintah Perancis, dengan dilandasi berbagai pemikiran politik, berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke seluruh dunia secara cuma-cuma.

Seorang peneliti Perancis lain, Joseph Nicephore Niepce, pada tahun 1826 sudah menghasilkan sebuah foto yang kemudian dikenal sebagai foto pertama dalam sejarah manusia. Foto yang berjudul View from Window at Gras itu kini disimpan di University of Texas di Austin, AS. Niepce membuat foto dengan melapisi pelat logam dengan sebuah senyawa buatannya. Pelat logam itu lalu disinari dalam kamera obscura sampai beberapa jam sampai tercipta imaji. Metode Niepce ini sulit diterima orang karena lama penyinaran dengan kamera obscura bisa sampai tiga hari.

Kamera mulai diperkenalkan ketika para pelukis menghadapi masalah untuk merekam gambar (potrait) sekitar abad 17 dan 18. Justru itu mereka telah mencipta kamera Abscura untuk kemudahan merakam gambar.

Tahun 1900 seorang Jurugambar telah mencipta kamera Mammoth. Kamera ini amat besar ukurannya dimana beratnya 1,400 pound. Lens seberat 500 pound. Sewaktu mengubah atau memindahkannya tenaga manusia sebanyaki 15 orang diperlukan!. Kamera ini menggunakan filem sebesar 4 ½ x 8 kaki dengan bahan kimia sebanyak 10 gallons digunakan ketika memprosesnya.

Dalam era teknologi, perkembangannya sangat ketara sekali apabila senifoto telah diadu kemajuan teknologi dan wujudnya adalah Kamera Digital yang diramalkan akan mengambil alih peranan senifoto tradisional (analog atau film).

Memasuki peradaban lebih modern, Fotografi Tidak semata heliografi lagi karena cahaya apa pun kemudian bisa dipakai, tidak semata cahaya matahari. Tahun 1901, seorang peneliti bernama Conrad Rontgen menemukan pemanfaatan sinar-X untuk pemotretan tembus pandang. Temuannya ini lalu mendapat Hadiah Nobel dan peralatan yang dipakai kemudian dinamai peralatan rontgen.

Cahaya buatan manusia dalam bentuk lampu sorot dan juga lampu kilat (blits) kemudian juga menggiring fotografi ke beberapa ranah lain. Pada tahun 1940, Dr Harold Edgerton yang dibantu Gjon Mili menemukan lampu yang bisa menyala-mati berkali-kali dalam hitungan sepersekian detik.

Blitz atau Flash atau cahaya bantu buatan manusia ditemukan jauh setelahnya. Penemuan alat bantu foto bersejarah ini juga menggiring fotografi ke beberapa ranah lain. Pada tahun 1940, Dr Harold Edgerton yang dibantu Gjon Mili menemukan lampu yang bisa menyala-mati berkali-kali dalam hitungan sepersekian detik. (berbagai sumber)


sentradigital.com

No comments: